Kamis, 18 Desember 2008

Tema Islam dari Wikipedia

Islam

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Artikel ini adalah bagian dari seri
Islam
Rukun Islam
Syahadat · Shalat · Puasa
Zakat · Haji
Rukun Iman
Allah · Al-Qur'an · Malaikat
Nabi · Hari Akhir
Qada & Qadar
Tokoh Islam
Muhammad SAW
Nabi & Rasul · Sahabat
Ahlul Bait
Kota Suci
Mekkah ·Madinah · Yerusalem
Najaf · Karbala · Kufah
Kazimain · Mashhad ·Istanbul
Hari Raya
Hijrah · Idul Fitri · Idul Adha · Asyura·Ghadir Khum
Arsitektur
Masjid ·Menara ·Mihrab
Ka'bah
Arsitektur Islam
Jabatan Fungsional
Khalifah ·Ulama ·Muadzin
Imam·Mullah·Ayatullah
Mufti
Teks & Hukum
Al-Qur'an ·Hadist · Sunnah
Fiqih · Fatwa · Syariat
Manhaj
Salafush Shalih
Mazhab
Sunni
Hanafi ·Hambali
Maliki ·Syafi'i
Syi'ah
Dua Belas Imam
Ismailiyah·Zaidiyah
Lain-lain
Ibadi · Khawarij
Murji'ah·Mu'taziliyah
Gerakan
Hizbullah·Hizbut Tahrir
Ikhwanul Muslimin·Tasawuf
Wahhabisme
Jamaah Tabligh
Ormas Islam
Nahdlatul Ulama
Muhammadiyah
Wahdah Islamiyah
Persis·MUI·LDII
Lihat Pula
Portal Islam
Indeks mengenai Islam

Islam (Arab: al-islām, الإسلام Bunyi dengarkan: "berserah diri kepada Tuhan") adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Agama ini termasuk agama samawi (agama-agama yang dipercaya oleh para pengikutnya diturunkan dari langit) dan termasuk dalam golongan agama Ibrahim. Dengan lebih dari satu seperempat milyar orang pengikut di seluruh dunia [1][2], menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen.[3] Islam memiliki arti "penyerahan", atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: الله, Allāh).[4] Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti "seorang yang tunduk kepada Tuhan"[5][6], atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Aspek kebahasaan

Kata Islam merupakan penyataan kata nama yang berasal dari akar triliteral s-l-m, dan didapat dari Kata kerja bahasa Arab Aslama, yaitu bermaksud "untuk menerima, menyerah atau tunduk." Dengan demikian, Islam berarti penerimaan dari dan penundukan kepada Tuhan, dan penganutnya harus menunjukkan ini dengan menyembah-Nya, menuruti perintah-Nya, dan menghindari politheisme. Perkataan ini memberikan beberapa maksud dari al-Qur’an. Dalam beberapa ayat, kualitas Islam sebagai kepercayaan ditegaskan: "Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam..."[7] Ayat lain menghubungkan Islām dan dīn (lazimnya diterjemahkan sebagai "agama"): "...Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu."[8] Namun masih ada yang lain yang menggambarkan Islam itu sebagai perbuatan kembali kepada Tuhan-lebih dari hanya penyataan pengesahan keimanan.[9]

Secara etimologis kata Islam diturunkan dari akar yang sama dengan kata salām yang berarti “damai”. Kata 'Muslim' (sebutan bagi pemeluk agama Islam) juga berhubungan dengan kata Islām, kata tersebut berarti “orang yang berserah diri kepada Allah" dalam bahasa Indonesia.

[sunting] Kepercayaan

Kepercayaan dasar Islam dapat ditemukan pada dua kalimah shahādatāin ("dua kalimat persaksian"), yaitu "Laa ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah" — yang berarti "Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah". Adapun bila seseorang meyakini dan kemudian mengucapkan dua kalimat persaksian ini, berarti ia sudah dapat dianggap sebagai seorang Muslim atau mualaf (orang yang baru masuk Islam dari kepercayaan lamanya).

Kaum Muslim percaya bahwa Allah mewahyukan al-Qur'an kepada Nabi Muhammad SAW, Penutup segala Nabi Allah (khataman-nabiyyin), dan menganggap bahwa al-Qur'an dan Sunnah (kata dan amalan Nabi Muhammad SAW) sebagai sumber fundamental Islam.[10] Mereka tidak menganggap Muhammad SAW sebagai pengasas agama baru, melainkan sebagai pembaharu dari keimanan monoteistik dari Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s., dan nabi lainnya (untuk lebih lanjutnya, silakan baca artikel mengenai Para nabi dan rasul dalam Islam). Tradisi Islam menegaskan bahwa agama Yahudi dan Kristen telah membelokkan wahyu yang Tuhan berikan kepada nabi-nabi ini dengan mengubah teks atau memperkenalkan intepretasi palsu, ataupun kedua-duanya.[11]

Umat Islam juga meyakini al-Qur'an sebagai kitab suci dan pedoman hidup mereka yang disampaikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW. melalui perantara Malaikat Jibril yang sempurna dan tidak ada keraguan di dalamnya (QS al-Baqarah:2). Allah juga telah berjanji akan menjaga keotentikan al-Qur'an hingga akhir zaman dalam suatu ayat.

Adapun sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur'an, umat Islam juga diwajibkan untuk mengimani kitab suci dan firman-Nya yang diturunkan sebelum al-Qur'an (Zabur, Taurat, Injil, dan suhuf atau lembaran Ibrahim) melalui nabi dan rasul terdahulu adalah benar adanya [12]. Umat Islam juga percaya bahwa selain al-Qur'an, seluruh firman Allah terdahulu telah mengalami perubahan oleh manusia. Mengacu pada kalimat di atas, maka umat Islam meyakini bahwa al-Qur'an adalah satu-satunya kitab Allah yang benar-benar asli dan sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya.

Profil Muslim di Indonesia

Umat Islam juga percaya bahwa Islam adalah agama yang dianut oleh seluruh nabi dan rasul utusan Allah sejak masa Nabi Adam as, dengan demikian tentu saja Nabi Ibrahim as juga menganut Islam [13]. Pandangan ini meletakkan Islam bersama agama Yahudi dan Kristen dalam rumpun agama yang mempercayai Nabi Ibrahim as. Di dalam al-Qur'an, penganut Yahudi dan Kristen sering disebut sebagai Ahli Kitab atau Ahlul Kitab.

Hampir semua Muslim tergolong dalam salah satu dari dua mazhab terbesar, Sunni (85%) dan Syiah (15%). Perpecahan terjadi setelah abad ke-7 yang mengikut pada ketidaksetujuan atas kepemimpinan politik dan keagamaan dari komunitas Islam ketika itu. Islam adalah agama pradominan sepanjang Timur Tengah, juga di sebagian besar Afrika dan Asia. Komunitas besar juga ditemui di Cina, Semenanjung Balkan di Eropa Timur dan Rusia. Terdapat juga sebagian besar komunitas imigran Muslim di bagian lain dunia, seperti Eropa Barat. Sekitar 20% Muslim tinggal di negara-negara Arab,[14] 30% di subbenua India dan 15.6% di Indonesia, negara Muslim terbesar berdasar populasi.[15]

[sunting] Lima Rukun Islam

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Rukun Islam

Islam memberikan banyak amalan keagamaan. Para penganut umumnya digalakkan untuk memegang Lima Rukun Islam, yaitu lima pilar yang menyatukan Muslim sebagai sebuah komunitas.[16] Tambahan dari Lima Rukun, hukum Islam (syariah) telah membangun tradisi perintah yang telah menyentuh pada hampir semua aspek kehidupan dan kemasyarakatan. Tradisi ini meliputi segalanya dari hal praktikal seperti kehalalan, perbankan, jihad dan zakat.[17]

Isi dari kelima Rukun Islam itu adalah:

  1. Mengucap dua kalimah syahadat dan meyakini bahwa tidak ada yang berhak ditaati dan disembah dengan benar kecuali Allah saja dan meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW adalah hamba dan rasul Allah.
  2. Mendirikan shalat lima kali sehari.
  3. Membayar zakat.
  4. Berpuasa pada bulan Ramadhan.
  5. Menunaikan ibadah haji bagi mereka yang mampu.

[sunting] Enam Rukun Iman

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Rukun Iman

Muslim juga mempercayai Rukun Iman yang terdiri atas 6 perkara yaitu:

  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada malaikat Allah
  3. Iman kepada kitab-kitab Allah (Al-Qur'an, Injil, Taurat, Zabur, lembaran Ibrahim)
  4. Iman kepada nabi dan rasul Allah
  5. Iman kepada hari kiamat
  6. Iman kepada qada dan qadar


[sunting] Doktrin Islam

Hampir semua Muslim tergolong dalam salah satu dari dua mazhab terbesar, Sunni (85%) dan Syiah (15%). Perpecahan terjadi setelah abad ke-7 yang mengikut pada ketidaksetujuan atas kepemimpinan politik dan keagamaan dari komunitas Islam ketika itu. Islam adalah agama pradominan sepanjang Timur Tengah, juga di sebahagian besar Afrika dan Asia. Komunitas besar juga ditemui di Cina, Semenanjung Balkan di Eropa Timur dan Rusia. Terdapat juga sebagian besar komunitas imigran Muslim di bagian lain dunia, seperti Eropa Barat. Sekitar 20% Muslim tinggal di negara-negara Arab,[18] 30% di subbenua India dan 15.6% di Indonesia, adalah negara Muslim terbesar berdasarkan populasinya.[19]

Negara dengan mayoritas pemeluk Islam Sunni adalah Indonesia, Arab Saudi, dan Pakistan sedangkan negara dengan mayoritas Islam Syi'ah adalah Iran dan Irak. Doktrin antara Sunni dan Syi'ah berbeda pada masalah imamah (kepemimpinan) dan peletakan Ahlul Bait (keluarga keturunan Rasulullah SAW). Namun secara umum, baik Sunni maupun Syi'ah percaya pada rukun Islam dan rukun iman walaupun dengan terminologi yang berbeda.

[sunting] Allah

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Allah dan Tauhid

Konsep Islam teologikal fundamental ialah tauhid-kepercayaan bahwa hanya ada satu Tuhan. Istilah Arab untuk Tuhan ialah Allāh; kebanyakan ilmuwan percaya kata Allah didapat dari penyingkatan dari kata al- (si) dan ʾilāh (dewa, bentuk maskulin), bermaksud "Tuhan" (al-ilāh ), tetapi yang lain menjejakkan asal usulnya dari Arami Alāhā.[20] Kata Allah juga adalah kata yang digunakan oleh orang Kristen (Nasrani) dan Yahudi Arab sebagai terjemahan dari ho theos dari Perjanjian Baru dan Septuaginta. Yang pertama dari Lima Rukun Islam, tauhid dituangkan dalam syahadat (pengakuan), yaitu bersaksi:

لا إله إلا الله محمد رسول الله

Tiada Tuhan Melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah

Konsep tauhid ini dituangkan dengan jelas dan sederhana pada surat al-Ikhlas (surat ke 112) yang terjemahannya adalah:

  1. Katakanlah: "Dia-lah Allah (Tuhan), Yang Maha Esa,
  2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu,
  3. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,
  4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."

Nama "Allah" tidak memiliki bentuk jamak dan tidak diasosiasikan dengan jenis kelamin tertentu. Dalam Islam sebagaimana disampaikan dalam al-Qur'an dikatakan:

"(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat". (QS 42-11)

Allah adalah Nama Tuhan (ilah) dan satu-satunya Tuhan sebagaimana perkenalan-Nya kepada manusia melalui al-Quran :

"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku". (QS. 20 : 14)

Pemakaian kata Allah secara linguistik mengindikasikan kesatuan. Umat Islam percaya bahwa Tuhan yang mereka sembah adalah sama dengan Tuhan umat Yahudi dan Nasrani, dalam hal ini adalah Tuhan Ibrahim. Namun, Islam menolak ajaran Kristen menyangkut paham Trinitas dimana hal ini dianggap Politheisme.

Mengutip al-Qur'an, surat An-Nisa(4) :171:

"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agama dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan kalimat-Nya) yang disampaikannya kepada Maryam dan (dengan tiupan ) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Dan janganlah kamu mengatakan :"Tuhan itu tiga", berhentilah dari ucapan itu. Itu lebih baik bagi kamu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa. Maha suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara".

Dalam Islam, visualisasi atau penggambaran Tuhan tidak dapat dibenarkan, hal ini dilarang karena dapat berujung pada pemberhalaan dan justru penghinaan, karena Tuhan tidak serupa dengan apapun (Asy-Syuraa QS. 42 : 11). Sebagai gantinya, Islam menggambarkan Tuhan dalam 99 nama/gelar/julukan Tuhan (asma'ul husna) yang menggambarkan sifat ketuhanan-Nya sebagaimana terdapat pada al-Qur'an.

[sunting] Al Qur'an

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Al Qur'an
Al-Fatihah merupakan surah pertama dalam Al-Qur'an

Al-Qur'an adalah kitab suci ummat Islam yang diwahyukan Allah kepada Muhammad melalui perantaraan Malaikat Jibril. Secara harfiah Qur'an berarti bacaan. Namun walau terdengar merujuk ke sebuah buku/kitab, ummat Islam merujuk Al-Qur'an sendiri lebih pada kata-kata atau kalimat di dalamnya, bukan pada bentuk fisiknya sebagai hasil cetakan.

Umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril. Penurunannya sendiri terjadi secara bertahap antara tahun 610 hingga hingga wafatnya beliau 632 M. Walau Al-Qur'an lebih banyak ditransfer melalui hafalan, namun sebagai tambahan banyak pengikut Islam pada masa itu yang menuliskannya pada tulang, batu-batu dan dedaunan.

Umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an yang ada saat ini persis sama dengan yang disampaikan kepada Muhammad SAW, kemudian disampaikan lagi kepada pengikutnya, yang kemudian menghapalkan dan menulis isi Al Qur'an tersebut. Secara umum para ulama menyepakati bahwa versi Al-Qur'an yang ada saat ini, pertama kali dikompilasi pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan (khalifah Islam ke-3) yang berkisar antara 650 hingga 656 Masehi. Utsman bin Affan kemudian mengirimkan duplikat dari versi kompilasi ini ke seluruh penjuru kekuasaan Islam pada masa itu dan memerintahkan agar semua versi selain itu dimusnahkan untuk keseragaman.[21]

Al-Qur'an memiliki 114 surah , dan sejumlah 6.236 ayat (terdapat perbedaan tergantung cara menghitung).[22] Hampir semua Muslim menghafal setidaknya beberapa bagian dari keseluruhan Al-Qur'an, mereka yang menghafal keseluruhan Al-Qur'an dikenal sebagai hafiz (jamak:huffaz). Pencapaian ini bukanlah sesuatu yang jarang, dipercayai bahwa saat ini terdapat jutaan penghapal Al-Qur'an diseluruh dunia. Di Indonesia ada lomba Musabaqah Tilawatil Qur'an yaitu lomba membaca Al-Qur'an dengan tartil atau baik dan benar. Yang membacakan disebut Qari (pria) atau Qariah (wanita).

Muslim juga percaya bahwa Al-Qur'an hanya berbahasa Arab. Hasil terjemahan dari Al-Qur'an ke berbagai bahasa tidak merupakan Al-Qur'an itu sendiri. Oleh karena itu terjemahan hanya memiliki kedudukan sebagai komentar terhadap Al-Qur'an ataupun hasil usaha mencari makna Al-Qur'an, tetapi bukan Al-Qur'an itu sendiri.

[sunting] Nabi Muhammad

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Muhammad dan hadits

Muhammad (570-632) dipercayai sebagai nabi terakhir dalam ajaran Islam dimana mengakui kenabiannya merupakan salah satu syarat untuk dapat disebut sebagai seorang muslim (lihat syahadat). Dalam Islam Muhammad tidak diposisikan sebagai seorang pembawa ajaran baru, melainkan merupakan penutup dari rangkaian nabi-nabi yang diturunkan sebelumnya.

Terlepas dari tingginya statusnya sebagai seorang Nabi, Muhammad dalam pandangan Islam adalah seorang manusia biasa. Namun setiap perkataan dan perilaku dalam kehidupannya dipercayai merupakan bentuk ideal dari seorang muslim. Oleh karena itu dalam Islam dikenal istilah hadits yakni kumpulan perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan Muhammad. Hadits adalah teks utama (sumber hukum) kedua Islam setelah Al Qur'an.

[sunting] Sejarah

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sejarah Islam

[sunting] Masa sebelum kedatangan Islam

Jazirah Arab sebelum kedatangan agama Islam merupakan sebuah kawasan perlintasan perdagangan dalam Jalan Sutera yang menjadikan satu antara Indo Eropa dengan kawasan Asia di timur. Kebanyakan orang Arab merupakan penyembah berhala dan ada sebagian yang merupakan pengikut agama-agama Kristen dan Yahudi. Mekkah adalah tempat yang suci bagi bangsa Arab ketika itu, karena di sana terdapat berhala-berhala agama mereka, telaga Zamzam, dan yang terpenting adalah Ka'bah. Masyarakat ini disebut pula Jahiliyah atau dalam artian lain bodoh. Bodoh disini bukan dalam intelegensianya namun dalam pemikiran moral. Warga Quraisy terkenal dengan masyarakat yang suka berpuisi. Mereka menjadikan puisi sebagai salah satu hiburan disaat berkumpul di tempat-tempat ramai.

[sunting] Masa awal

Negara-negara dengan populasi Muslim mencapai 10% (hijau dengan dominan sunni, merah dengan dominan syi'ah) (Sumber - CIA World Factbook, 2004).

Islam bermula pada tahun 611 ketika wahyu pertama diturunkan kepada rasul yang terakhir yaitu Muhammad bin Abdullah di Gua Hira', Arab Saudi.

Muhammad dilahirkan di Mekkah pada tanggal 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (571 masehi). Ia dilahirkan ditengah-tengah suku Quraish, dalam kehidupan suku-suku padang pasir yang suka berperang. Muhammad dilahirkan dalam keadaan yatim, sebab ayahnya Abdullah wafat ketika ia masih berada di dalam kandungan. Pada saat usianya masih 6 tahun, ibunya Aminah meninggal dunia. Sepeninggalan ibunya, Muhammad dibesarkan oleh kakeknya Abdul Muthalibdan dilanjutkan oleh pamannya yaitu Abu Talib . Muhammad kemudian menikah dengan Siti Khadijah dan menjalani kehidupan secara sederhana.

Ketika Muhammad berusia 40 tahun, ia mulai mendapatkan wahyu yang disampaikan Malaikat Jibril, dan sesudahnya selama beberapa waktu mulai mengajarkan ajaran Islam secara tertutup kepada para sahabatnya. Ajaran Islam kemudian juga disampaikan secara terbuka kepada seluruh penduduk Mekkah, yang mana sebagian menerima dan sebagian lainnya menentangnya.

Pada tahun 622 masehi, Muhammad dan pengikutnya berpindah ke Madinah. Peristiwa ini disebut Hijrah, dan semenjak peristiwa itulah dasar permulaan perhitungan kalender Islam. Di Madinah, Muhammad dapat menyatukan orang-orang anshar (kaum muslimin dari Madinah) dan muhajirin (kaum muslimin dari Mekkah), sehingga semakin kuatlah umat Islam. Dalam setiap peperangan yang dilakukan melawan orang-orang kafir, umat Islam selalu mendapatkan kemenangan. Dalam fase awal ini, tak terhindarkan terjadinya perang antara Mekkah dan Madinah.

Keunggulan diplomasi nabi Muhammad SAW pada saat perjanjian Hudaibiyah, menyebabkan umat Islam memasuki fase yang sangat menentukan. Banyak penduduk Mekkah yang sebelumnya menjadi musuh kemudian berbalik memeluk Islam, sehingga ketika penaklukan kota Mekkah oleh umat Islam tidak terjadi pertumpahan darah. Ketika Muhammad wafat, hampir seluruh Jazirah Arab telah memeluk agama Islam.

[sunting] Khalifah Rasyidin

Khalifah Rasyidin atau Khulafaur Rasyidin memilki arti pemimpin yang baik diawali dengan kepemimpinan Abu Bakar, dan dilanjutkan oleh kepemimpinan Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib. Pada masa ini umat Islam mencapai kestabilan politik dan ekonomi. Abu Bakar memperkuat dasar-dasar kenegaraan umat Islam dan mengatasi pemberontakan beberapa suku-suku Arab yang terjadi setelah meninggalnya Muhammad. Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib berhasil memimpin balatentara dan kaum Muslimin pada umumnya untuk mendakwahkan Islam, terutama ke Syam, Mesir, dan Irak. Dengan takluknya negeri-negeri tersebut, banyak harta rampasan perang dan wilayah kekuasaan yang dapat diraih oleh umat Islam.

[sunting] Masa kekhalifahan selanjutnya

Setelah periode Khalifah Rasyidin, kepemimpinan umat Islam berganti dari tangan ke tangan dengan pemimpinnya yang juga disebut "khalifah", atau terkadang "amirul mukminin", "sultan", dan sebagainya. Pada periode ini khalifah tidak lagi ditentukan berdasarkan orang yang terbaik di kalangan umat Islam, melainkan secara turun-temurun dalam satu dinasti (bahasa Arab: bani) sehingga banyak yang menyamakannya dengan kerajaan; misalnya kekhalifahan Bani Umayyah, Bani Abbasiyyah, hingga Bani Utsmaniyyah.

Besarnya kekuasaan kekhalifahan Islam telah menjadikannya salah satu kekuatan politik yang terkuat dan terbesar di dunia pada saat itu. Timbulnya tempat-tempat pembelajaran ilmu-ilmu agama, filsafat, sains, dan tata bahasa Arab di berbagai wilayah dunia Islam telah mewujudkan satu kontinuitas kebudayaan Islam yang agung. Banyak ahli-ahli ilmu pengetahuan bermunculan dari berbagai negeri-negeri Islam, terutamanya pada zaman keemasan Islam sekitar abad ke-7 sampai abad ke-13 masehi.

Luasnya wilayah penyebaran agama Islam dan terpecahnya kekuasaan kekhalifahan yang sudah dimulai sejak abad ke-8, menyebabkan munculnya berbagai otoritas-otoritas kekuasaan terpisah yang berbentuk "kesultanan"; misalnya Kesultanan Safawi, Kesultanan Turki Seljuk, Kesultanan Mughal, Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Malaka, yang telah menjadi kesultanan-kesultanan yang memiliki kekuasaan yang kuat dan terkenal di dunia. Meskipun memiliki kekuasaan terpisah, kesultanan-kesultanan tersebut secara nominal masih menghormati dan menganggap diri mereka bagian dari kekhalifahan Islam.

Pada kurun ke-18 dan ke-19 masehi, banyak kawasan-kawasan Islam jatuh ke tangan penjajah Eropa. Kesultanan Utsmaniyyah (Kerajaan Ottoman) yang secara nominal dianggap sebagai kekhalifahan Islam terakhir, akhirnya tumbang selepas Perang Dunia I. Kerajaan ottoman pada saat itu dipimpin oleh Sultan Muhammad V. Karena dianggap kurang tegas oleh kaum pemuda Turki yang di pimpin oleh mustafa kemal pasha atau kemal attaturk, sistem kerajaan dirombak dan diganti menjadi republik.

[sunting] Demografi

Saat ini diperkirakan terdapat antara 1.250 juta hingga 1,4 milyar umat Muslim yang tersebar di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut sekitar 18% hidup di negara-negara Arab, 20% di Afrika, 20% di Asia Tenggara, 30% di Asia Selatan yakni Pakistan, India dan Bangladesh. Populasi Muslim terbesar dalam satu negara dapat dijumpai di Indonesia. Populasi Muslim juga dapat ditemukan dalam jumlah yang signifikan di Republik Rakyat Cina, Amerika Serikat, Eropa, Asia Tengah, dan Rusia.

Pertumbuhan Muslim sendiri diyakini mencapai 2,9% per tahun, sementara pertumbuhan penduduk dunia hanya mencapai 2,3%. Besaran ini menjadikan Islam sebagai agama dengan pertumbuhan pemeluk yang tergolong cepat di dunia. [1]. Beberapa pendapat menghubungkan pertumbuhan ini dengan tingginya angka kelahiran di banyak negara Islam (enam dari sepuluh negara di dunia dengan angka kelahiran tertinggi di dunia adalah negara dengan mayoritas Muslim [2]. Namun belum lama ini, sebuah studi demografi telah menyatakan bahwa angka kelahiran negara Muslim menurun hingga ke tingkat negara Barat. [3]

[sunting] Tempat ibadah

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Masjid

Rumah ibadat umat Muslim disebut masjid atau mesjid. Ibadah yang biasa dilakukan di Masjid antara lain shalat berjama'ah, ceramah agama, perayaan hari besar, diskusi agama, belajar mengaji (membaca Al-Qur'an) dan lain sebagainya.

[sunting] Lihat pula

Kedamaian dalam Islam

Setiap agama dari segi esensialnya adalah menawarkan keselamatan kepada setiap umat manusia dengan jalan mengajarkan kedamaian, persatuan, persaudaraan antara sesama manusia. Dan sangat menetang bentuk-bentuk permusuhan, pertentangan, pertengakaran, kerusuhan di dalam masyarakat baik dalam skala kecil maupun skala global. Dalam hal ini islam, Apa upaya islam dalam menegakkan kedamaian, persaudaraan dan persatuan guna menyelamatkan umat manusia di seluruh dunia? Alquran banyak mengajarkan kepada kita tentang hal ini, tetapi mengapa dalam kenyataannya hal itu masih jauh dari harapan, apa penyebab dari hal itu? Hal itu adalah karena kurangnya takwa dari orang-orang islam.

Didalam Al-Quranul Karim diantara semua hukum yang paling ditegaskan dibanding dengan hukum-hukum lainnya, adalah tentang takwa dan menjaga diri sendiri. Sebabnya adalah takwa memberi kekuatan untuk menghindarkan diri dari setiap keburukan, dan takwa memberi kekuatan kepada manusia untuk maju kedepan dalam amal kebaikan. Dan latar belakang mengapa Tuhan memberi penegasan terhadap takwa, karena takwa adalah jaminan bagi manusia untuk mendapatkan keselamatan. Dan untuk terlindung dari setiap macam fitnah atau cobaan takwa adalah sarana kekuatan yang paling ampuh. Seorang yang bertakwa terlindung dari banyak sekali bahaya pertengkaran. Sedangkan yang lain yang tidak bertakwa banyak terlibat didalam pertengkaran dan perselisihan, sehingga kadang-kadang sampai membawa kepada kebinasaan. Dan disebabkan berbagai prasangka buruk dan sifat terburu-nafsu dapat menimbulkan perpecahan dikalangan bangsa, sehingga memberi kesempatan terhadap para penentang untuk melakukan serangan.

Jadi, takwa adalah dasar pokok agama. Selama takwa ini berada dikalangan orang-orang islam, maka mereka akan mampu menyebarkan keselamatan dari Allah taalat keseluruh dunia. Dan orang-orang berjiwa suci akan bergabung terus bersama mereka sehingga Islam keluar dari negara Arab berkembang ke negara-negara Asia, sampai negara-negara Timur Jauh. Selanjutnya Islam mendapat kemajuan sampai kebenua Afrika dan benderanya terus berkibar sampai kenegara-negara Eropa.

Akan tetapi tatkala takwa semakin berkurang, keamanan dan kedamaian bertukar dengan selfishness (mementingkan diri sendiri), kecintaan dan kasih sayang berganti dengan kekacauan dan kebencian, maka orang-orang muslim menjadi kosong dan hampa dari berkat-berkat ketakwaan itu, yang Allah taala tanamkan didalam hati orang-orang islam.

Allah taala � melalui perantaraan Rasulullah Muhammad saw � telah menurunkan ajaran yang terakhir kepada Yang Mulia Rasulullah saw untuk mengikis habis kekacauan dan kerusuhan. Sekarang juga ajaran inilah yang ditampilkan untuk merubah kegelapan menjadi cahaya terang-benderang. Sekarang juga ajaran inilah yang diamalkan untuk menyebar luaskan keselamatan dan mencegah keburukan dan kerusuhan. Meskipun orang-orang Islam, zaman sekarang telah terhindar dan hampa dari berkat-berkat ini, yang disebabkan oleh takwa yang telah terlepas dari dalam hati mereka, dan tindakan mementingkan diri sendiri serta kebencian, setiap hari kian terus meningkat. Akan tetapi Allah taala telah berjanji kepada Nabi Muhammad saw pembawa syari�at terakhir, untuk memenangkan Agama Islam diatas agama-agama lain diseluruh dunia. Dan bagaimanapun Allah swt tidak akan menarik kembali janji-Nya ini. Jika terjadi kelemahan didalam usaha itu, maka penyebabnya hanyalah karena kosongnya takwa didalam kalbu orang Islam. Didalam Islam tidak terdapat sesuatu kekurangan apapun.

Maka dengan ketakwaan setiap muslim lah yang akan mampu mengembalikan warisan iman yang sudah menghilang dari dalam kalbu umat Islam itu. Maka kewajiban setiap muslim untuk menyebar luaskan amanat keselamatan kesetiap penjuru dunia. Dan pengertian ini harus disematkan kedalam hati setiap orang bahwa Islam bukanlah agama terorisme, atau agama kekerasan, melainkan agama yang mengembangkan kecintaan dan kasih-sayang. Islam menegakkan ajaran kedamaian dan keselamatan disetiap lapisan masyarakat. Ditingkat negara dan bangsa-bangsa didunia, Islam menegakkan ajaran kedamaian dan keselamatan yang begitu indah sehingga tidak ada yang mampu membandingkan dengan ajaran agama lain dan memang tidak akan dapat dibandingkan dengan agama apapun didunia. Dan tidak pula agama lain mampu menegakkan ajaran seperti itu.

Dengan mengamalkan ajaran yang indah seperti inilah kedamaian dan keamanan dunia dapat ditegakkan. Sejak perang dunia ke II, untuk menegakkan kedamaian dan keamanan dunia telah dibentuk sebuah perkumpulan dengan nama United Nations Organization (UNO) atau perserikatan bangsa-bangsa (PBB) namun kita lihat bagaimana hasilnya. Didalam perserikatan itu para pakar yang cerdas-cerdas bekerja sama membuat berbagai macam program dan rencana-rencana yang besar, mendirikan berbagai macam komite, mendirikan konsul keamanan (security councel), supaya melalui konsul ini keamanan dunia dapat ditegakkan dan persengketaan antara negara dapat diselesaikan, mengadakan survey tentang ekonomi karena hal ini dapat menjadi sebab timbulnya kerusuhan juga, dan untuk itupun telah didirikan sebuah konsul tersendiri. Dan juga telah didirikan juga sebuah pengadilan Internasional, dan lain sebagainya.

Akan tetapi walaupun telah dibentuk berbagai macam komite, kita menyaksikan apa yang tengah terjadi didalam dunia sekarang ini, mereka menghadapi kegagalan. Semua kegagalan itu disebabkan tidak adanya taqwa didalam hati mereka. Beberapa Bangsa menjadi sombong dan takabbur disebabkan mempunyai kekayaan, kekuatan ekonomi, kekuatan politik, kekuatan ilmu pengetahuan lebih dari bangsa-bangsa lain, atau menganggap diri mereka menjadi negara yang paling aman didunia sehingga merasa lebih unggul daripada negara lain. Mereka membagi kedudukan wakil tetap dan kedudukan wakil non tetap atau sementara sehingga tidak mungkin akan terjadi keadilan diantara mereka tanpa ada pandangan mata rohani, tanpa pertolongan Allah taalat dan tanpa adanya ketakwaan. Karena keputusan mayoritas mempunyai kekuasaan, maka jika kepada kelompok yang kuat ini diberi kekuasaan untuk membuat keputusan, maka keputusan itu tidak dapat menjadi penyebar keselamatan. Maka jika dunia ingin memberi keputusan tentang keselamatan, maka mereka harus mengikuti ajaran yang telah diberikan oleh Allah taala kepada Rasulullah saw. Didalamnya terdapat takwa sebagai syarat.

Di dalam Surah Al Hujurat ayat 14 Allah taala berfirman :

ياَيُّهَاالنَّاسُ اِنَّا خَلَقْنَـكُمْ مِنْ ذَكَرٍوَّاُنْثى وَجَعَلْنـكُمْ شُعُوْبًا
وَّقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَاللهِ اَتْقـكُمْ اِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya : Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan; dan Kami telah membuat kami berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu dapat kenal-mengenal . Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal.

Itulah ajaran Islam tentang persaudaraan. Dan itulah perintah Allah Allah untuk menegakkan persaudaraan secara Islam dan untuk menegakkan keselamatan diseluruh dunia. Setiap orang mu�min yang bertakwa kepada Allah diperintahkan untuk menerapkan ajaran persaudaraan ini pada dirinya sendiri secara sempurna dan untuk menyebarkannya keseluruh dunia. Inilah perintah yang dapat menjalin kecintaan dan kasih-sayang serta persamaan satu dengan lain. Kalau tidak berapapun banyaknya komite keamanan dibentuk mereka tidak akan mampu mengatasi keresahan didalam bangsa-bangsa didunia, karena negara-negara super power telah menempatkan diri mereka jauh lebih berkuasa dari negara-negara lain. Maka keselamatan dan kedamaian dunia dapat terjamin dan keresahan bangsa-bangsa dapat diatasi apabila sikap kedustaan dan kezaliman sudah dapat dihapuskan dari kalangan mereka. Keresahan bangsa-bangsa didunia tidak akan dapat dihapuskan selama takabbur karena darah keturunan, dan karena darah kebangsaan belum dikeluarkan dari dalam benak mereka.

Didalam dunia ini, keamanan dan kedamaian tidak dapat ditegakkan selama didalam pikiran setiap jenis keturunan, setiap jenis bangsa, setiap penduduk negara ataupun para pemegang pemerintahan belum tertanam kesadaran bahwa mereka semua adalah berasal dari anak keturunan Adam yang sama dan mereka dilahirkan dari pasangan jenis laki-laki dan perempuan. Dan kedudukan kita semua sebagai manusia adalah sama disisi Tuhan. Jika dalam pandangan Tuhan, seseorang dianggap mulia tiada lain adalah karena ia seorang bertakwa kepada-Nya. Dan nilai ketakwaan seseorang tidak dapat diketahui oleh siapapun kecuali oleh Allah swt sendiri. Tidak ada orang yang patut mengatakan dirinya sebagai orang bertakwa dan dia tidak dapat mengukur atau menilai ketakwaan dirinya sendiri.

Allah taala berfirman : Kedudukan kalian dan martabat kalian lebih baik dan lebih tinggi dari orang lain, bukan karena keturunan, bukan karena bangsa, bukan karena warna kulit, bukan karena kekayaan dan tidak pula karena kelebihan martabat kalian ditengah-tengah masyarakat, bukan karena kekuasaan suatu bangsa menjajah bangsa yang lemah, dari pandangan dunia mungkin saja dianggap kelebihan, akan tetapi dipandangan Tuhan tidak mempunyai hakikat apapun. Dan setiap perkara yang tidak diterima disisi Allah taala, tidak akan berhasil mengusahakan sesuatu maksud yang baik sekalipun menggunakan fasilitas yang sangat cukup dan baik.

Sesuai ajaran Islam semua keturunan manusia adalah sebuah keluarga. Dan apabila semuanya tinggal dalam bentuk satu keluarga, maka tentu akan saling memperhatikan keselamatan dan kedamaian satu sama lain sebagaimana lazimnya anggota keluarga tinggal saling cinta-mencintai satu sama lain.

Didalam ayat itu Allah taala hanya memberi pandangan tentang kabilah atau bangsa, supaya dapat saling mengenal satu sama lain, misalnya ini bangsa Pakistan, ini bangsa Inggris, bangsa German, ini bangsa Afrika, sedangkan sebagai manusia kita semuanya sama. Perasaan orang kaya sama seperti perasaan orang miskin sebagai manusia. Perasaan yang dimiliki orang-orang Eropa perasaan itu juga yang dimiliki orang-orang Afrika dalam kedudukannya sebagai manusia. Perasaan yang dimiliki orang-orang Timur perasaan itu juga yang dimiliki oleh orang-orang Barat dalam kedudukan mereka sebagai manusia. Maka setiap orang harus menghargai perasaan yang lain. Jika saling menghargai perasaan satu sama yang lain pasti akan dapat hidup bersama-sama dalam kedamaian dan keselamatan.

Maka setiap bangsa yang diberi keistimewaan oleh Allah taala, biasanya setiap bangsa mempunyai ciri khas masing-masing, maka ambillah manfaat sebesar-besarnya daripadanya supaya suasana kecintaan dan kasih-sayang satu sama lain dapat diciptakan untuk selama-lamanya. Maka hal itulah criteria untuk menciptakan keselamatan secara kekal sesuai dengan ajaran Islam. Kalau tidak, sebagaimana telah saya katakan berapapun banyaknya konsul-konsul keamanan atau organisasi-organisasi telah didirikan untuk menegakkan kedamaian dan keselamatan yang kekal tidak akan berhasil. Dan ajaran Islam ini bukan terbatas hanya sebagai teori saja, namun sejak zaman Rasulullah saw ajaran itu telah diamalkan, beliau sangat mencintai rakyat miskin dan kasih-sayang terhadap anak-anak yatim, kasih sayang terhadap para sahaya, dan membela hak-hak masyarakat lemah tak berdaya, membebaskan budak-budak belian, menempatkan kedudukan mereka didalam masyarakat. Bilal r.a. Seorang budak belian berasal dari Afrika telah dibela haknya untuk dibebaskan dari majikannya, akan tetapi pada waktu itu tidak ada masalah identitas kebangsaan didalam masyarakat. Karena Hazrat Rasulullah saw telah menempatkan kedudukan Bilal r.a. begitu luhur sehingga Khalifah Umar telah memanggil beliau dengan sebutan Sayyidina Bilal. Demikianlah caranya memberi standar kedamaian dan keselamatan ditengah masyarakat.

Didalam Hujjatul Wida (Khutbah Haji terakhir) Rasulullah saw secara terbuka telah bersabda: �Kamu semua adalah anak cucu Adam, oleh karena itu, Bangsa Arab tidak mempunyai kemuliaan secara istimewa diatas orang-orang Non Arab dan tidak pula orang-orang Non Arab mempunyai kelebihan diatas orang-orang Arab. Demikian juga halnya keturunan atau warna kulit bukan kelebihan atau keistimewaan sesuatu bangsa atau kaum.� Demikianlah masyarakat yang indah yang telah diciptakan oleh Rasulullah saw. Dan masyarakat seperti inilah yang harus dibina setiap muslim dalam kehidupan bermasyarakat baik tingkat mayarakat lokal maupun internsional.

Setelah itu Allah taala telah menurunkan perintah untuk menciptakan kedamaian dan keselamatan dunia, yang cukup untuk menutup mulut orang-orang yang menuduh Islam dikembangkan dengan pedang dan memberi perintah untuk melakukan teror. Akan tetapi sebaliknya Allah taala memberi perintah untuk tidak melakukan tindakan sembarangan dan kekerasan terhadap mereka yang tidak memerangi kalian, berbuatlah baik terhadap mereka dan perlakukanlah mereka secara adil sesuai dengan hukum Islam, baik mereka itu orang-orang Yahudi ataupun Nasrani atau penganut agama apapun.

Seperti firman-Nya didalam Al-Qur�an surah Al Mumtahinah ayat 9 sebagai berikut :

لاَيَنْهـكُمُ اللهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْاكُمْ فِىالدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ
وَتُقْسِطُوْااِلَيْهِمْ اِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

Artinya : Allah tidak melarang kamu berbuat baik terhadap mereka yang tidak memerangi kamu disebabkan agama-mu dan yang tidak mengusir kamu dari negerimu; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.

Didalam ayat ini terdapat isyarah juga terhadap perintah, seperti yang terdapat didalam surah lain, jika untuk mencegah kerusuhan kalian harus mengangkat senjata, maka kalian dapat melakukannya. Dalam kapasitas sebagai bangsa atau pemerintah, kalian dapat mengumumkan perang terhadap orang-orang yang berbuat kerusuhan dan mengangkat senjata untuk memerangi kalian. Akan tetapi dengan izin ini jangan diambil kesempatan untuk memerangi mereka yang tidak ikut berperang, tidak melakukan kerusuhan, yang tidak berusaha untuk menghancurkan kalian, maka kewajiban kalian adalah berlaku adil dan berbuat kebaikan terhadap mereka dan berlaku ramah terhadap mereka. Itulah perintah yang Allah taala telah turunkan kepada kalian. Pengumuman perang hanya dilakukan terhadap mereka yang benar-benar bertujuan untuk membuat kerusuhan dan melakukan serangan terhadap kalian. Allah taala tidak memberi izin untuk bersahabat dengan mereka dan tidak pula Dia mengizinkan untuk mencintai mereka. Akan tetapi terhadap mereka yang tinggal dengan aman dan netral, Allah taala tidak mengizinkan untuk memerangi mereka.

Dalam hal ini harus dijelaskan juga bahwa sesuai dengan ajaran Islam, mengumumkan perang terhadap musuh atau membangkitkan reaksi terhadap mereka adalah tugas pemerintah bukan tugas perorangan atau kelompok-kelompok kecil maupun besar. Jika terjadi pelanggaran, maka didalam pemerintahan itu sendiri akan timbul sebuah huru-hara yang membahayakan. Dan dengan sangat disesalkan hal inilah yang sekarang sedang terjadi di banyak negara orang-orang Islam didunia. Kita dapat menyaksikan bahwa mereka membuat kerusuhan didalam negeri mereka sendiri. Dengan demikian nama baik agama dan orang-orang muslim sendiri sudah menjadi sangat tercemar.

Ada lagi perintah dari Allah taala yang sangat penting sekali berkaitan dengan dunia Internasional khususnya dengan konsul keamanan Internasional; sebagaimana Allah taala berfirman didalam Al-Qur�an surah Al An�am ayat 109 sebagai berikut :

وَلاَ تَسُبُّوْا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ فَيَسُبُّوا اللهَ عَدْوًا بَغَيْرِعِلْمٍ
كَذَالِكَ زَيَّنَّ لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ اِلى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بَمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Artinya : Dan janganlah kalian memaki apa yang diseru mereka selain Allah, maka mereka akan memaki Allah karena rasa permusuhan tanpa ilmu. Demikianlah Kami menampakkan indah kepada tiap-tiap ummat amalan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, maka Dia akan memberitahukan kepada mereka apa-apa yang dahulu mereka kerjakan.

Dalam ayat ini betapa indahnya Allah taala mengajarkan adab dan sopan santun terhadap penyembah berhala sekalipun bahwa janganlah kita mencaci maki berhala-berhala orang musyrik, karena dengan itu mereka akan ballik mencaci-maki Tuhan kita, karena memang mereka tidak tahu siapa Tuhan kita ini !

Lihatlah, sekalipun menurut ajaran Tuhan, berhala itu tidak mengandung arti apa-apa, namun Allah taala telah mengajarkan akhlak kepada orang-orang muslim agar jangan mengeluarkan kata-kata buruk terhadap patung-patung persembahan orang-orang musyrik. Berilah mereka pengertian dengan lemah-lembut agar mereka faham dan tidak melemparkan caci maki terhadap Tuhan dengan mulut kasar. Untuk menjaga keamanan, caci-maki mereka jangan ditanggapi, lebih baik kalian diam.

Demikianlah perintah Islam demi menegakkan kedamaian dan keselamatan didalam masyarakat diatas dunia ini. Jika setiap keburukan dijawab dengan keburukan lagi, berarti menimpakan keburukan itu pada diri sendiri. Penentang Islam yang menghina dijawab dengan penghinaan lagi, akhirnya penghinaan itu dapat mereka lemparkan kepada pemimpin kita. Permisalan yang diberikan kepada orang-orang muslim itu sangat keras artinya bahwa setiap perkataan mereka harus mengandung hikmah, bila saja mereka berkata-kata. Namun jangan menunjukkan sifat pengecut dan jangan ada segi kemunafiqan didalamnya melainkan harus berpegang dengan sesungguhnya kepada perintah Allah taala tersebut. Sebagaimana telah saya katakan bahwa Allah taala dengan perumpamaan-Nya yang begitu keras memberi pengertian kepada kalian, bahwa dengan memberi jawaban yang salah akan mengakibatkan Tuhan kita akan menjadi sasaran caci-maki mereka itu. Dan karena ghairat orang-orang muslim terhadap Tuhan sangat tinggi, maka kalian akan merasa susah hati mendengar caci-maki mereka itu. Maka jika kalian memberi jawaban yang salah sehingga mereka menghina Tuhan, maka kalianlah yang akan bertanggung jawab atas perbuatan mereka itu. Demikian juga jika kalian mengeluarkan kata-kata tidak baik terhadap para pembesar, atau para peminpin mereka, maka merekapun akan membalas dengan serangan terhadap para pemimpin kalian.

Berkenan dengan hal itu terdapat sebuah hadis bahwa Rasulullah saw bersabda; Janganlah kamu memaki bapakmu sendiri! Seorang bertanya, Ya Rasulullah! Siapa yang memaki bapaknya sendiri? Beliau bersabda: Jika kamu memaki bapak seseorang, maka dia akan menjawab dengan memaki bapak kamu. Hal itu sama saja dengan memaki bapak kamu sendiri.! Demikianlah ajaran Islam untuk mencegah keburukan dan untuk menyebar luaskan keselamatan dan kedamaian dimuka bumi.

Syirik adalah perkara yang sangat dibenci oleh Allah taala, sehingga sebagai hukumannya, Dia tidak akan memaafkan dosanya itu. Namun terhadap orang-orang penyembah berhala seperti itu juga, Tuhan menasihatkan agar berbicara dengan etika kesopanan yang baik terhadap mereka. Tuhan memerintahkan kepada kita agar akhlak kita harus menampilkan perilaku seorang muslim yang sejati. Sekarang menjadi tugas kewajiban seluruh orang muslim untuk menyebar-luaskan ajaran Islam yang indah ini.

Penomena yang sekarang kita hadapi adalah bagaimana menghadapi mereka yang tidak mau berhenti memperolok-olokkan dan menghina Islam. Bagaimana usaha yang harus dilakukan terhadap mereka itu? Tentang ini Allah taala telah memberi tahu bahwa kalian harus berbicara dengan etika kesopanan yng baik terhadap orang-orang yang bernasib malang itu, kalian harus menampilkan prilaku Islam yang sesungguhnya didepan mereka. Sehingga mereka akan terkesan bahwa kalian orang baik-baik.

Akhirnya setelah meninggalkan dunia ini merekapun akan kembali kepada Tuhan. Apabila mereka akan berjumpa dengan Allah taala, maka Allah taala sendiri akan membalas apa yang mereka lakukan didunia ini. Allah taala berfirman didalam Al-Qur�an surah Al Qaf ayat 25-27 sebagai berikut :

اَلْقِيَا فِى جَهَنَّمَ كُلَّ كّفَّارٍ عَنِيْدٍ-
مَّنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ مُّرِيْبٍ-
اَلَّذِيْ جَعَلَ مَعَ اللهِ اِلَـهًا اَخَرَ فَاَلْقِيَـهُ فِىالْعَذَابِ الشَّدِيْدِ

Artinya : Kami berfirman kepada keduanya, �Campakkanlah oleh kamu berdua kedalam neraka setiap musuh yang ingkar akan kebenaran-Penghalang kebaikan, pelanggar batas, peragu- Yang menjadikan persembahan lain disisi Allah, maka campakkanlah dia oleh kamu berdua kedalam azab yang sangat keras.

Demikianlah bagaimana Allah taala akan berlaku terhadap mereka dihari akhirat nanti. Pekerjaan apapun yang Allah swt sendiri telah mengambil tanggung jawab atasnya, kita tidak perlu khawatir tentang itu.

Sekarang dunia Islam sedang disibukkan dalam upaya sentimen terhadsap agama islam, misalnya Salman Rushdi, pelecehan Nabi Muhammad saw dengan memuat kartun-kartun yang mencemoohkan, atau Geert Wilders dengan film Fitna nya. Orang-orang seperti dia ini setidak-tidaknya mesti ada yang mereka sembah. Apakah berupa organisasi dunia ataupun berupa manusia yang dianggap sangat besar olehnya atau suatu pemerintahan dunia yang dianggap sebagai sembahannya. Untuk orang semacam inipun Allah taala sudah menyediakan urusannya.

Dengan melakukan tindakan kerusuhan atau menganggap bunuh diri melawan mereka diperbolehkan atau reaksi dari pihak kita harus begini dan begitu, dengan mengumbar slogan-slogan, maka hal demikian sesungguhnya justru telah mencoreng nama baik Agama Islam sendiri. Dengan menampilkan perlakuan demikian tidak akan membawa hasil apapun untuk agama selain nama buruk. Atau dengan dilakukannya tindakan-tindakan kerusuhan atau protes-protes tidak membawa kemaslahatan apapun melainkan hanya kerugian.

Dia yang telah melakukan penghinaan terhadap Islam atau terhadap Rasulullah saw, sebenarnya dia telah melakukan penghinaan terhadap para Malaikat dan terhadap Allah swt. Untuk Rushdi yang telah membuat tulisan sangat menyerang dan menghina itu beberapa tahun sebelum ini, sekarang sebuah pemerintah apapun alasannya, tanpa menghiraukan perasaan orang-orang muslim diseluruh dunia telah memberikan piagam atau penghargaan sebagai hadiah kepada orang seperti itu, maka urusannya dia akan berhadapan dengan Tuhan dan Tuhan akan bertindak sendiri terhadapnya.

Hal itu terjadi bukan berarti kebaikan telah lenyap di Eropa, atau di Eropa sudah tidak ada lagi orang-orang baik. Masih banyak orang-orang yang baik hati, di Inggris sendiri banyak orang-orang baik, sehingga para anggota parlemen Inggris sangat keberatan terhadap kejadian ini. Mereka mengatakan dengan memberikan piagam penghargaan itu tidak ada faedahnya sama sekali, bahkan akan memicu suasana pergolakan yang akan menghancurkan kedamaian dan keselamatan dunia.

Beberapa tahun yang lalu sekitar 10 tahun yang lalu, ketika ia menulis sebuah buku penghinaan itu, dia tidak berdiri sendiri, banyak orang berdiri dibelakangnya sebagai master mind nya untuk melakukan penghinaan terhadap Islam. Banyak orang yang telah menyelidiki dan hasilnya membuktikan bahwa dia dipicu oleh sekelompok orang untuk mengadakan persekongkolan yang sangat besar dan berbahaya untuk menghasut dan membakar kemarahan ummat Islam seluruh dunia. Mereka ingin mengambil faedah yang jahat dibalik reaksi kemarahan ummat Islam seluruh dunia.

Sekarang jika timbul reaksi dari beberapa kelompok Islam kemudian berhenti lagi, tidak ada faedahnya sedikitpun. Dengan membakar bendera-bendera, mengadakan protes dimana-mana, hal itu tidak dapat melemahkan persekongkolan mereka yang begitu luas dan besar serta tersusun rapih. Dengan melakukan tindakan yang demikian ingin mencapai maksud yang semu, bagaimana akan berhasil, bahkan langkah mereka sendiri memberi dukungan terhadap tuduhan musuh-musuh Islam bahwa Islam adalah sebuah agama kekerasan.

Reaksi sebenarnya yang harus dilakukan oleh ummat Islam adalah mereka harus menerapkan ajaran Islam yang sejati diatas diri mereka sendiri lebih dari waktu sebelumnya. Supaya mulut dunia berhenti dengan sendirinya dari tuduhan-tuduhan palsu mereka. Dan banyak-banyaklah mengirim selawat kepada Yang Mulia Rasulullah saw, supaya umat beliau semakin meningkat maju. Tampilkanlah tauladan suci beliau kepada dunia.

Hukum Allah taala didalam Al-Qur�an mengatakan bahwa dasar keselamatan dunia adalah keadilan. Bagaimanakah standar keadilan itu? Tentang ini Allah taala berfirman didalam surah Al Maidah ayat 9 sebagai berikut :

يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ امَنُوْاكُوْنُوْاقَوَّامِيْنَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلاَيَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاَنُ قَوْمٍ
عَلَى اَلاَّ تَعْدِلُوْا اِعْدِلُوْاهُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوْا اللهَ اِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah kamu berdiri teguh karena Allah, menjadi saksi dengan adil; dan janganlah kebencian sesuatu kaum mendorong kamu bertindak tidak adil. Berlakulah adil; itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan.

Permusuhan Kaum yang memusuhi kita, jangan menghentikan kita dari bersikap adil terhadap mereka. Tetaplah berdiri diatas keadilan karena disitulah letaknya Taqwa. Kita semua menyadari betapa susahnya berlaku adil terhadap bangsa-bangsa yang membenci tanpa hak, menyakiti, menumpahkan darah dan mengusir dan membunuh anak-anak dan perempuan-perempuan, seperti yang dilakukan oleh orang-orang kafir Mekkah terhadap orang-orang muslim. Akan tetapi Al-Qur�an tidak menyia-nyiakan hak mereka sekalipun hendak membunuh, bahkan mewasiyatkan untuk berlaku adil dan jujur terhadap mereka. berlaku baik terhadap musuh mudah sekali, namun menjaga hak-hak musuh dan bersikap adil terhadap mereka adalah pekerjaan yang sangat susah dan hal itu merupakan pekerjaan orang-orang pemberani. Berbicara sambil santai dan dengan sopan terhadap musuh adalah pekerjaan mudah saja. Akan tetapi bersikap adil terhadap mereka dan melupakan permusuhan mereka adalah pekerjaan yang sungguh besar dan susah. Pekerjaan yang memerlukan jantung hati yang betul-betul kuat dan tegar.

Di dalam ayat ini Allah taala tidak membahas masalah kecintaan akan tetapi standar kecintaanlah yang dibahas. Maka orang yang berlaku adil terhadap musuh yang sekalipun hendak membunuhnya dan ia tidak memberi ma�af terhadapnya ia tidak dapat mencintainya dengan sesungguhnya. Dan memang Allah swt tidak memerintahkan agar mencintainya, namun standar kecintaan kalian harus ditunjukkan walaupun musuh itu sudah melampaui batas kejahatannya seperti perlakuan orang-orang musyrik Mekah terhadap orang mu�min dan terhadap Rasulullah saw, mereka menyiksa, menganiaya dan membunuh orang-orang mu�min. Namun demikian firman-Nya, terhadap orang-orang demikianpun kalian harus berlaku adil. Dengan cara demikian kecintaan dapat tumbuh berkembang. Itulah kecintaan sejati yang akan mampu mengembangkan amanat kedamaian dan keselamatan yang sesungguhnya keseluruh dunia.

Demikianlah standar ajaran Islam yang sejati. Apabila kecintaan sejati dan tuntutan keadilan dapat dipenuhi dengan sebaik-baiknya maka keselamatan Islam sejatipun dapat dikembangkan. Tauladan yang sangat indah Rasulullah saw-lah disaat terjadi fatah Mekkah yang telah menarik pembesar-pembesar kuffar Mekah masuk kedalam pangkuan Islam. Tauladan suci beliau itu telah menjadi sumber keselamatan bagi musuh-musuh beliau.

Pengumuman yang beliau kumandangkan :

لاَ تَثْرِيْبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ

Tiada celaan lagi atas kamu pada hari ini !!

keselamatan sejati semakin harum semerbak memenuhi lorong-lorong kota Mekah dan keharumannya berlanjut semerbak kemana-mana.

Itulah sarana yang diperlukan untuk menegakkan kedamaian dan keselamatan dunia. Kalau tidak, berapapun banyaknya negara-negara besar dunia yang mencintai keadilan, namun mereka hanya menjadi alat persekongkolan belaka dan mereka hanya menjadi kaki-tangan negara-negara kuat yang menguasai ekonomi dunia. Sekalipun secara teori mereka menyerukan dan menggembor-gemborkan untuk menciptakan keamanan dan kedamaian dunia, akan tetapi praktek sebenarnya, mereka telah menciptakan berbagai macam kerusuhan dan keresahan baik didaratan maupun dilautan.

Islam dan Kedamaian

Esensi Ajaran Islam adalah Kedamaian

18-May-2007

Ajaran Islam yang memiliki semangat damai hingga kini belum sepenuhnya terwujud dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Setiap terjadi perubahan sosial politik, konflik yang melibatkan umat beragama pasti menyertainya. Islam juga ditubuh sebagai agama yang tidak manusiawi karena ajaran hukum cambuk, potong tangan, dan lain sebagainya. Stigma-stigma itulah yang kerap menjadi pertentangan dan perdebatan di kalangan kaum Muslim dan non-Muslim. Bagaimana upaya untuk menghilangkan cap buruk tersebut? Berikut perbincangan Reporter CMM Yulmedia dengan Muhammad Arifin Ilham, Pengasuh Majelis Az-Zikra di Mampang Indah II Depok:

Islam berasal dari akar kata salam yang berarti damai. Jadi Islam berarti kedamaian. Menurut Ustad dari sisi apa saja terdapatnya makna damai dalam ajaran Islam tersebut?
Pengertian tersebut lahir dari esensi Islam ltu sendiri, di mana ajarannya membawa kedamaian bagi umat manusia. Jika kita meneropong Islam dari tiga sudut, yakni aqidah, syariat, dan akhlak, ketiga jalur tersebut juga memancarkan kedamaian dalam arti yang sesungguhnya. Dari sisi aqidah, Islam adalah ajaran ideologis yang mengarahkan pikiran manusia untuk meyakini hanya satu kekuatan mutlak, yaitu Allah Swt. Oleh karena itu, Dia saja yang layak diagungkan, disembahi, dibesarkan, ditakuti, dan dicintai. Manusia yang berpikir fokus pada satu titik akan merasakan kedamaian. Sebaliknya, manusia yang meyakini banyak unsur, banyak kekuatan itu akan tidak damai dan tidak tenteram karena harus menyenangkan banyak pihak, mencari simpati banyak unsur. Tenaga dan pikirannya terkuras oleh banyak sasaran, dalam kondisi seperti ini kedamaian tidak akan didapat.

Tapi sebagian kalangan ada yang menilai sebaliknya, mengidentikan Islam sebagai agama “pedang”, potong tangan, hukum cambuk, dan kasar. Bagaimana?
Islam dideklarasikan sebagai “agama rahmatan lil alamin” (rahmat bagi seluruh alam) seperti dinyatakan Allah Swt, “Dan tidaklah Aku mengutus engkau, wahai Muhammad, kecuali menjadi rahmat bagi seluruh alam,” (QS al-Anbiya [21]: 107). Islam menjamin kebahagiaan dan kesejahteraan bagi umat manusia karena kesempurnaan syariatnya. Meskipun dalam penerapan beberapa hukumnya terkesan ekstrem, seperti pemberlakuan hukum qishash atau hudud berupa potong tangan dan cambuk bagi mereka yang melakukan kriminalitas tertentu, hal itu tidak berarti Islam sebagai agama yang ekstrim dan kasar. Justru dengan begitu Islam semakin menampakkan diri sebagai agama yang menjamin keamanan, ketenteraman, dan kesejahteraan manusia. Inilah keindahan dan rahasia ajaran Islam yang membawa kemaslahatan, tidak hanya bagi kaum Muslim, melainkan juga bagi kalangan non-Muslim itu sendiri, bahkan bagi alam secara keseluruhan. Sejarah masa-masa kejayaan Islam telah membuktikan betapa teduh, aman, dan damainya hidup dalam naungan Islam.

Tapi selama ini hal-hal semacam itu yang dijadikan alasan oleh orang-orang yang tidak memahami Islam dan menuding sebagi agama sadis, kasar, dan sebagainya?
Yang jelas Islam bukan seperti yang mereka gambarkan tersebut. Jika mereka dapat melihat dari sisi syariat, tinjauan dari sisi ini semakin jelas bahwa Islam mengajarkan damai dan mewujudkan kedamaian itu. Dalam lingkup keluarga, masyarakat, dan bangsa. Jika syariat diamalkan oleh segenap anggota keluarga, terciptalah keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Dalam lingkup masyarakat, syariat Islam mengatur sistem muamalat, seperti jual beli, gadai, upah, den sewa-menyewa. Tujuannya tidak lain adalah untuk mewujudkan kedamaian. Sejumlah transaksi dilarang oleh Alquran dan Sunnah Rasul karena berpotensi menimbulkan konflik. Syariat Islam mengharamkan khamar, judi, zina, pembunuhan, fitnah, dan perbuatan kriminal yang lain. Alasannya, khamar akan menimbulkan kekisruhan akibat ada orang-orang yang tidak berpikir normal. Judi menimbulkan bibit perkelahian karena dengki dan iri hati.

Kembali ketudingan kalangan di luar Islam bahwa Islam itu dikembangkan melalui peperangan. Sebetulnya ada ngak alasan kekerasan ataupun peperangan itu dibolehkan dalam Islam?
Kata jihad yang sering kita dengar acapkali dimaknai sebagai perang dalam bentuk fisik. Padahal pengertian jihad adalah upaya mencurahkan kemampuan yang kita miliki untuk kepentingan perjuangan di jalan Allah, meangungkan kalimat Allah, menyebarkan dakwah Islamiyah, memerangi kebatilan dengan cara yang makruf, memerangi hawa nafsu, dan mencegah bentuk penindasan. Peperangan dalam bentuk fisik dilakukan apabila adanya upaya-upaya yang diarahkan untuk memerangi umat Islam, negara ataupun agama, maka umat Islam tidak akan ragu-ragu untuk memerangi mereka. Dalam al-Quran dijelaskan, “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Sesungguhnya Allah, benar-benar Mahakuasa menolong mereka. Yaitu orang-orang yang telah diusir dari kampung mereka tanpa alasan yang benar...,” (QS al-Hajj [22]: 39-40).

Agama, Filsafat dan Ilmu

Agama, Filsafat dan Ilmu

Dalam Tahshîl al-sa'âfidah AI-Fârâbi dengan jelas menyatakan pandangannya tentang sifat agama dan filsafat serta hubungan antara keduanya:

Ketika seseorang memperoleh pengetahuan tentang wujud atau memetik pelajaran darinya, jika dia memahami sendiri gagasan-gagasan tentang wujud itu dengan inteleknya, dan pembenarannya atas gagasan tersebut dilakukan dengan bantuan demonstrasi tertentu, maka ilmu yang tersusun dari pengetahuan-pengetahuan ini disebut filsafat .Tetapi jika gagasan-gagasan itu diketahui dengan membayangkannya lewat kemiripan-kemiripan yang merupakan tiruan dari mereka, dan pembenaran terhadap apa yang dibayangkan atas mereka disebabkan oleh metode-metode persuasif, maka orang-orang terdahulu menyebut sesuatu yang membentuk pengetahan-pengetahuan ini agama. Jika pengetahuan-pegetahuan itu sendiri diadopsi, dan metode-metode persuasif digunakan, maka agama yang memuat mereka disebut filsafat populer, yang diterima secara umum, dan bersifat eksternal.

Al-Fârâbî menghidupkan kembali klaim kuno yang menyatakan bahwa agama adalah tiruan dari filsafat. Menurutnya, baik agama maupun filsafat berhubungan dengan realitas yang sama. Keduanya terdiri dari subjek-subjek yang serupa dan sama-sama melaporkan prinsip-prinsip tertinggi wujud (yaitu, esensi Prinsip Pertama dan esensi dari prinsip-prinsip kedua nonfisik). Keduanya juga melaporkan tujuan puncak yang diciptakan demi manusia yaitu,kebahagiaan tertinggi dan tujuan puncak dari wujud-wujud lain. Tetapi, dikatakan Al-Fârâbî, filsafat memberikan laporan berdasarkan persepsi intelektual. Sedangkan agama memaparkan laporannya berdasarkan imajinasi. Dalam setiap hal yang didemonstrasikan oleh filsafat, agama memakai metode-metode persuasif untuk menjelaskannya.

Tujuan dari 'tiruan-tiruan' kebenaran wahyu kenabian dengan citra dan lambang telah dijelaskan sebelumnya. Sifat dari citra dan lambang religius ini membutuhkan pembahasan lebih lanjut. Menurut Al-Fârâbî, agama mengambil tiruan kebenaran transenden dari dunia alami, dunia seni dan pertukangan, atau dari ruang lingkup lembaga sosio-politik. Sebagai contoh, pengetahuan-pengetahuan yang sepenuhnya sempurna, seperti Sebab Pertama, wujud-wujud malakut atau lelangit dilambangkan dengan benda-benda terindra yang utama, sempuma, dan indah dipandang. Inilah sebabnya mengapa dalam Islam, matahari melambangkan Tuhan, bulan melambangkan nabi, dan bintang melambangkan sahabat nabi.

Fungsi dari tugas-tugas politis seperti raja dengan segenap hierarki bawahannya berikut fungsi-fungsi kehormatannya memberikan citra dan lambang bagi pemahaman akan hierarki wujud dan perbuatan-perbuatan ilahi saat menciptakan dan mengurus alam semesta. Karya-karya seni dan pertukangan manusia memperlihatkan, tiruan-tiruan gerakan kekuatan dan prinsip alami yang memungkinkan terwujudnya objek-objek alami. Sebagai contoh, empat sebab Aristotelian yang disebut Al-Fârâbî sebagai empat prinsip wujud, dapat dijelaskan dengan merujuk pada prinsip-prinsip pembuatan objek-objek seni. Secara umum, menurut Al-Fârâbî, agama berusaha membawa tiruan-tiruan kebenaran filosofis sedekat mungkin dengan esensi mereka.

Dalam Islam, pandangan mengenai perbedaan antara agama (millah) dan filsafat (falsafah) umumnya diidentifikasi dengan mazhab masysyâ'î ilmuwan filosof di mana Al-Fârâbî termasuk di dalamnya. Rahman telah memperlihatkan bahwa perbedaan ini diikuti rumusan terinci menyangkut filsafat agama Yunani-Romawi dalam perkembangan-perkembangan berikutnya. Namun, gagasan mendasar yang ingin disampaikan melalui perbedaan ini bukan sesuatu yang asing bagi perspektif wahyu Islam. Gagasan yang sama di ungkapkan para Sufi dalam kerangka perbedaan eksoterik-esoterik. Gagasan itu berbunyi demikian: kebenaran atau realitas adalah satu namun pemahamannya oleh pikiran manusia mempunyai derajat kesempurnaan yang bertingkat-tingkat. Meskipun dia juga seorang Sufi, Al-Farabi di sini berbicara sebagai wakil dari tradisi filosofis.

Dalam perspektif falâsifah, filsafat dan agama merupakan dua pendekatan mendasar menuju pada kebenaran. Apa yang hendak dibedakan dengan tajam di sini bukan filsafat, yang dipahami sebagai sistem rasional pemahaman (inteleksi) dan wahyu yang dirumuskan secara bebas; dan agama, yang dipahami sebagai tradisi wahyu secara total. Ini sangat jelas tampak dari perkataan dan Al-Fârâbî tentang filsafat dan agama. Istilah yang digunakannya untuk menyatakan perbedaan agama dari filsafat adalah millah; bukan dîn. Ini menunjukkan kehendak Al-Fârâbî membedakan filsafat secara kontras tidak dengan tradisi wahyu dalam totalitasnya, melainkan dengan dimensi eksoterik tradisi wahyu. Karena itu, dia lebih suka menggunakan istilah millah daripada dîn. Millah lebih tepat karena dia mengacu pada komunitas religius di bawah sanksi ilahi dengan seperangkat kepercayaan dan undang-undang atau perintah-perintah hukum moral yang didasarkan pada wahyu. Dimensi ekstemal dari tradisi wahyu harus diidentifikasi dengan kepercayaan-kepercayaan dan praktik-praktik komunitas religius ini.

Dalam wacana yang dikutip di atas, Al-Fârâbî tampaknya berpendapat ada dua jenis filsafat. Jenis pertama, filsafat yang disebutnya filsafat populer, diterima secara umum dan eksternal. Dari paparannya tentang karakteristik filsafat tersebut dan kalâm, khususnya penjelasan dalam Ihshâ' al-'ulûm, tidak diragukan bahwa Al-Fârâbî menganggap kalâm sebagai contoh dari filsafat jenis pertama. Jenis kedua, filsafat esoterik yang ditujukan bagi kaum elitek yaitu suatu filsafat yang hanya diperkenalkan pada mereka yang telah siap secara intelektual dan spiritual. Filsafat dapat digambarkan sebagai ilmu tentang realitas yang didasarkan atas metode demonstrasi yang meyakinkan (al-burhân al-yaqînî), suatu metode yang merupakan gabungan dari intuisi intelektual dan putusan logis (istinbâth) yang pasti. Karena itu, filsafat adalah sejenis pegetahuan yang lebih unggul dibanding agama (millah), karena millah didasarkan atas metode persuasif (al-iqnâ').

Kemudian, bagi Al-Fârâbî, filsafat merujuk pada kebenaran abadi atau kebijaksaaan (al-hikmah) yang terletak pada jantung setiap tradisi. Ini dapat diidentifikasi dengan philosophia perennis yang diajarkan oleh Leibniz dan secara komprehensif dijelaskan dalam abad ini oleh Schuon, Berbicara mengenai beberapa tokoh kuno pemilik kebijaksanaan tradisional ini. Al-Fârâbî menulis:

Konon, dahulu kala ilmu ini terdapat dikalangan orang-orang Kaldea, yang merupakan bangsa Irak, kemudian bangsa Mesir, dari sini lantas diteruskan pada bangsa Yunani, dan bertahan di situ hingga diwariskan pada bangsa Syria, dan selanjutnya, bangsa Arab. Segala sesuatu yang terkandung dalam ilmu tersebut dijelaskan dalam bahasa Yunani, kemudian Syria, dan akhirnya Arab.

Dikatakan Al-Fârâbî, bangsa Yunani menyebut pengetahuan tentang kebenaran abadi ini kebijaksanaan "paripuma" sekaligus kebijaksanaan tertinggi. Mereka menyebut perolehan pengetahuan seperti itu sebagai ilmu', dan mengistilahkan keadaan ilmiah pikiran sebagai filsafat'. Yang dimaksud dengan yang terakhir ini adalah tidak lain pencarian dan kecintaan pada kebijaksanaan tertinggi. Menurut Al-Fârâbî, orang-orang Yunani juga berpendapat bahwa secara potensial kebijaksanaan ini memasukkan setiap jenis kebajikan. Berdasarkan alasan ini, filsafat lantas disebut sebagai ilmu dari segala ilmu, induk dari segala ilmu, kebijaksanaan dari segala kebijaksanaan dan seni dari segala seni. Maksud mereka sebenarnya, tutur Al-Fârâbî, adalah seni yang memanfaatkan segala kesenian, kebajikan yang memanfaatkan segala kebajikan, dan kebijaksanaan yang memanfaatkan segala kebijaksanaan.

Al-Fârâbî agaknya sadar sepenuhnya akan fakta berikut: sementara esensi dari kebijaksanaan abadi ini satu dan sama dalam setiap tradisi, sejauh ini tidak ditemukan model pengungkapan yang sama pada tradisi-tradisi ini. Tetapi, Al-Fârâbî tidak menjelaskan deskripsi cara pengungkapan ini dalam kasus tradisi pra-Yunani. Tetapi dia menyebut filosof-filosof Yunani, tepatnya plato dan Aristoteles, khususnya lagi Aristoteles, sebagai pencipta bentuk-bentuk pengungkapan dan penjelasan baru dari kebijaksanaan kuno ini, berupa pengungkapan dialektis atau logis. Pengetahuan tentang bentuk-bentuknya baru diwarisi oleh Islam melalui orang-orang Kristen Syria.

Sebagaimana telah kita lihat, Al-Fârâbî mendefinisikan kebijaksanaan tertinggi sebagai "pengetahuan paling tinggi tentang Yang Maha Esa sebagai Sebab pertama dari setiap eksistensi sekaligus Kebenaran pertama yang merupakan sumber dari setiap kebenaran". Mengikuti Aristoteles, Al-Fârâbî menggunakan istilah filsafat untuk merujuk pada pengetahuan metafisis yang diungkapkan dalam bentuk-bentuk rasional serta ilmu-ilmu,yang dijabarkan dari pengetahuan metafisis yang didasarkan pada metode demonstrasi yang meyakinkan. Karena itu, filsafat Al-Fârâbî terdiri dari empat bagian: ilmu-ilmu matematis, fisika (filsafat alam), metafisika, dan ilmu tentang masyarakat (politik). Perbedaan filsafat-agama oleh Al-Fârâbî dibayangkan dalam konteks satu tradisi wahyu yang sama. Tetapi perbedaan itu memiliki keabsahan universal, yang dapat diterapkan bagi setiap tradisi wahyu. Dengan meninjau tiap-tiap tradisi dalam batas-batas pembagian hierarkis menjadi filsafat dan agama, Al-Farabi memberikan teori untuk menjelaskan fenomena, keragaman agama. Menurutnya, agama berbeda itu satu sama lain karena kebenaran-kebenaran intelektual dan spiritual yang sama bisa jadi memiliki banyak penggambaran imajinatif yang berlainan. Kendati demikian, terdapat kesatuan pada setiap tradisi wahyu didataran filosofis, karena pengetahuan filosofis tentang realitas sesungguhnya hanya satu dan sama bagi setiap bangsa dan masyarakat.

Pada saat yang sama, Al-Fârâbî menyukai gagasan keunggulan relatif satu lambang religius atas lambang lainnya, dalam pengertian bahwa lambang-lambang dan citra-citra yang dipakai dalam satu agama lebih mendekati kebeparan spiritual yang hendak disampaikan-lebih tepat dan lebih efektif-ketimbang yang dipakai dalam agama lainnya. renting dicatat, Al-Farabi diketahui tidak pernah mencela agama tertentu, meskipun dia berpendapat bahwa sebagian dari lambang dan citra religius agama tersebut tak memuaskan atau bahkan membahayakan. Tulisnya:

Tiruan dari hal-hal macam itu bertingkat-tingkat dalam keutamaannya; penggambaran imajinatif sebagian dari mereka lebih baik dan lebih sempurna, sementara yang lainnya kurang baik dan kurang sempurna; sebagian lebih dekat pada kebenaran, sebagian lain lebih jauh. Dalam beberapa hal, butir-butir pandangannya sedikit-atau bahkan tidak dapat-diketahui, atau malah sulit berpendapat menentang mereka, sementara dalam beberapa hal lainnya, butir-butir pandangannya banyak atau mudah dilacak, di samping mudah memahami pendapat tentang mereka atau untuk menolak mereka.

Perbedaan filsafat-agama sebagaimana telah dirumuskan Al-Fârâbî, lagi-lagi, menjadi fokus pemusatan hierarki ilmu dalam pemikirannya. Ketika perbedaan ini diterapkan baik pada dimensi teoretis maupun praktis dari wahyu, seperti dikemukakan sebelumnya, kita akan sampai pada hasil yang menyoroti lebih jauh perlakuan Al-Fârâbî terhadap ilmu-ilmu religius dalam klasifikasinya dikaitkan dengan ilmu-ilmu filosofis. Kalâm dan fiqh, satu-satunya ilmu-ilmu religius yang muncul dalam klasifikasinya, Al-Fârâbî adalah ilmu-ilmu eksternal atau eksoterik dari dimensi-dimensi wahyu secara teoretis dan praktis. Metafisika (al-'ilm al-ilâhî) dan politik (al-'ilm al-madanî) berturut-turut merupakan mitra filosofisnya

Cetak

Manusia Ciptaan Allah

Manusia, Puncak Ciptaan Allah. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling lengkap dan sempurna oleh Allah Swt. Diwaktu masih berupa janin Allah pun meniupkan roh sehingga manusia itu bisa bernyawa. Roh,mutlak ciptaan Allah Taalla,angapan bahwa kejadian roh itu hanya secara alamiah adalah pendapat yang salah dan keliru dalam pandangan Islam. Maka dengan roh itulah manusia akan mampu berfikir dan memahami serta selalu mempunyai ikatan yang kuat dengan penciptanya tadi ( Allah Swt ). Dan hakekatnya ikatan itu tidak bisa dipisahkan karena merupakan perwujudan sifat Ar Rahim-Nya. Namun, walaupun sudah jelas dan terang asal muasal kejadiannya,masih ada juga dari manusia itu sendiri yang ragu dan bimbang bahkan tidak merasa terpanggil hatinya untuk memahami untuk apa dirinya diciptakan dan dihidupkan dipermukaan bumi ini lalu dimasukkan kembali keperut bumi setelah ajalnya datang dan akhirnya dibangkitkan kembali dalam bentuk lain

Hal ini diterangkan Allah dalan Qs Al Hajj-5 “ Hai manusia jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur) maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah,kemudian dari setetes air mani,kemudian dari segumpal darah dan segumpal daging yang sempurna kejadianya dan yang tidak sempurna dan agar kami jelaskan kepada kamu dan kami tetapkan dalam rahin,apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan,kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi,kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah pada kedewasaan,dan diantara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) diantara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun,supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering,kemudian apabila telah Kami turunkan air diatasnya,hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah”.

Sedangkan didalam Qs Ali Imran-59 diterangkan bahwa Nabi Isa sebagaimana Nabi Adam berasal dari tanah. Hanya saja menurut Prof .Dr Salman Harun, proses penciptaan antara keduanya mengalami perbedaan. Dalam diri Nabi Isa terdapat unsur sel telur dari Ibunya. Sel telur itu sendiri berasal dari darah,darah dari makanan,dan makanan tumbuh dari tanah. Sedangkan kejadian Nabi Adam langsung diciptakan melalui kreasi terindah dari Allah dengan tanah. Didalam Qs Al mukminun-12 Allah menerangkan lagi “ Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati (berasal) dari tanah “. Dari sinilah kemudian tahap kejadian manusia (keturunan Adam ) berlanjut menurut tahapan-tahapan yang telah digariskan-Nya.

Dari sinilah kemudian dapat dilihat perbedaan manusia dengan ciptaan-ciptaan Allah lainnya dikarenakan setelah dibentuk,Allah meniupkan rohnya sendiri kedalam diri manusia. Maka dapat disimpulkan bahwa penciptaan manusia dalam prose salami (sunatullah) terdiri dari dua aspek pokok,yaitu aspek material dan aspek immaterial. Aspek material adalah jasmaniah (jasad) yaitu jisim manusia,tubuh atau badan. Abu Ishak menjelaskan lagi bahwa jasad adalah sesuatu yang tidak bisa berfikir dan tidak bisa dilepaskan dari pengertian bangkai.


Sedangkan Abu Lais mengungkapkan bahwa makhluk yang berjasad adalah makhluk yang makan dan minum. Sedangkan menurut Imam Al Ghazali Al jism atau jasad terdiri dari unsur-unsur materi yang suatu saat komposisinya bisa rusak,karena itu ia tidak memiliki sifat yang kekal. Sehingga jasad tsb tidak akan memiliki kekuatan bila tampa adanya roh. Namun demikian,realitas jasad adalah realitas dari manusia yang dharuri,siqnifikan atau pokok tampa adanya jasad tidak dapat di mengerti adanya manusia,karena dengan jasadlah realitas dan eksistensi manusia dapat dilihat pada aktifitas dalam ruang dan waktu tertentu.

Sedangkan Aspek immaterial adalah rohaniah. Aspek rohaniah ini sifatnya abstrak dan bagaimanapun tidak akan dapat untuk direalitaskan,ia hanya terlihat dari adanya aktifitas jasmaniah. Ia memberikan nilai kepada jasmaniah dalam setiap aktifitasnya. Imam Al Ghazali membagi aspek rohaniah ini dalam dua bentuk yaitu: Al Roh atau daya manusia untuk mengenal dirinya,tuhanya dan mencapai ilmu pengetahuan,sehingga dapat menentukan manusia berkepribadian,berakhlak mulia serta menjadi motivator sekaligus pengerak bagi manusia didalam melaksanakan perintah Allah Swt. Dan aspek Al Nafs yaitu, panas alami yang mengalir dalam pembuluh-pembuluh nadi,otot-otot dan syaraf manusia. Ia sebagai tanda adanya kehidupan pada diri manusia. Dalam konteks ini Al Nafs diistilahkan dengan nyawa yang membedakan manusia dengan benda mati,tetapi tidak membedakanya dengan makhluk lainya,karena sama-sama memiliki Al Nafs ini seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Konsep Al Basyr. Dalam konsep ini manusia dipandang dari segi biologis. Sebagai makhluk biologis,manusia terdiri dari unsur materi,sehingga menampilkan sosok dalam wujud fisik material. Ini menjadikan manusia tak jauh beda dengan makhluk biologis lainya,maka kehidupan manusia terikat pada kaidah prinsip kehidupan biologis seperti berkembang biak,mengalami fase pertumbuhan dan perkembangan dalam mencapai tingkat kematangan dan kedewasaan. Hal ini telah diterangkan dalam Qs Al Mukminun-12-15 “ Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah,lalu segumpal daging,lalu tulang-belulang,lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging kemudian kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain. Maka maha suci Allah,pencipta yang paling baik. Kemudian sesudah itu,sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati “.

Konsep Al Insan, kata Al Insan ini mengacu pada potensi yang dianugerahkan Allah kepada umat manusia diantaranya potensi untuk berkembang biak secara fisik dan juga potensi berkembang secara mental spiritual didalam mengenal serta mendekatkan diri pada sang penciptanya. Singkatnya konsep Al Insan ini mengacu pada bagaimana manusia dapat memerankan dirinya sebagai sosok pribadi yang mampu mengembangkan dirinya menjadi ilmuwan atau seniman dsb, serta berakhlak mulia. Konsep ini mengarah pada upaya mendorong manusia untuk berkreasi dan berinovasi dengan menyeimbangkan antara kepentingan dunia dan kepentingan akhirat.

Konsep Al Nas, kalimat ini dalam Al Quran biasa konotasikan dengan fungsi manusia sebagai makhluk sosial. Manusia diciptakan sebagai makhluk bermasyarakat yang berawal dari perkawinan dan berketurunan yang berkembang menjadi suku bangsa untuk saling kenal mengenal. (Qs Al Hujarat-13). “.Dalam kitab shahih Al-Bukhari disebutkan bahwa Ali Bin Abi Thalib Berpesan sesungguhnya dunia ini telah pergi membelakangimu. Dan Akhirat telah menghadap kedepanmu. Maka jadilah kamu anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia,karena hari ini adalah hari beramal,bukan hari dihisab,sedangkan esok adalah hari dihisab,bukan hari beramal.

Pada akhirnya, manusia memang mempunyai fitrah yang hakeketnya selalu membawa pada keteguhan dan keyakinan akan pengabdian pada Allah. Dengan-Nyalah manusia akan dapat terhindar dari godaan syaitan dan dengan kekuasaan-Nya pula manusia itu bisa selamat dari segala bentuk mara bahaya dan bencana. Manusia merupakan puncak ciptaan Allah yang melampaui para malaikat,baik didalam pengetahuan maupun didalam keshalehan.Karena itu manusia diciptakan dengan berbagai macam konsep bukan sekedar untuk permainan tapi harus mempertanggung jawabkan keberhasilan atau kegagalan baik didunia apalagi diakhirat nanti.

Silabus PAI

Silabus PAI

Deskripsi Mata Kuliah
Pendidikan Agama Islam dirancang untuk memperkuat iman dan taqwa kepada Allah Swt serta memperluas wawasan hidup beragama demi terwujudnya kesejahteraan umum. Mata kuliah ini secara umum membahas tentang esensi ajaran Islam baik yang berkenaan dengan Akidah, Syari’ah maupun Akhlak.

Posisi Mata Kuliah dan Jumlah SKS
Mata kuliah Pendidikan Agama merupakan salahsatu komponen yang tidak dapat dipisahkan dari kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MKPK) dalam susunan kurikulum inti Perguruan Tinggi di Indonesia. Bobot mata kuliah ini adalah 2 SKS dan wajib diambil oleh setiap mahasiswa yang beragama Islam pada semua program/ jurusan.

Tujuan Pembelajaran
Pendidikan Agama di Perguruan Tinggi bertujuan untuk membantu terbinanya mahasiswa yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berfikir filosofis, bersikap rasional dan dinamis, berpandangan luas, ikut serta dalam kerjasama antar ummat beragama dalam rangka pengembangan dan pemanfaatan ilmu dan teknologi serta seni untuk kepentingan manusia dan nasional.

Dosen
Akhmad Shobhan Yulianto, S.Ag, M.PdI

Materi

  1. Manusia dan Agama (macam- macam ciptaan Allah, manusia makhluk Allah yang paling sempurna, kebutuhan manusia akan pedoman hidup).

  2. Agama Islam (macam agama dan kedudukan agama Islam, peranan agama Islam dalam menentramkan batin dan membawa kedamaian).

  3. Sumber Ajaran Islam (sistematika sumber ajaran Islam, penggunaan akal sebagai aumber ajaran Islam).

  4. Kerangka Dasar Ajaran Islam ( akidah, syari’ah dan akhlak, agama Islam dan ilmu- ilmu keIslaman, filsafat, tasawuf dan pembaharuan dalam Islam).

  5. Akidah (arti dan ruang lingkup akidah, kemahaesaan Allah, kiamat, hukum alam dan akhirat, peranan malaikat dan makhluk ghaib lainnya serta pengaruhnya terhadap manusia, tugas dan peranan Nabi dan Rasul, fungsi kitab suci yang dibawa Rasul bagi umatnya, pengertian qadla dan qadar).

  6. Syari’ah, Ibadah dan Mu’amalah (pengertian dan ruang lingkup syariat Islam, pengertian, tujuan, kedudukan dan hikmah ibadah dalam Islam, arti shalat dan hikmahnya bagi kehidupan, pelaksanaan dan hikmah puasa, zakat, haji, muamalah dalam Islam, kewarisan dalam Islam, prinsip kerjasama umat beragama).

  7. Akhlak (pengertian dan ruang lingkup akhlak yang menghormati HAM, serta perbedaannya dengan moral dan etika, akhlak terhadap Allah, manusia dan HAM serta lingkungan hidup).

  8. Takwa (pengertian, ruang lingkup dan kedudukan takwa yang menghormati HAM, hubungan manusia dengan HAM, hubungan manusia dengan diri sendiri, hubungan manusia dengan lingkungan hidup).

  9. Ilmu Pengetahuan dalam Islam (kedudukan akal, wahyu dan ilmu dalam Islam, klasifikasi dan karakteristik ilmu dalam Islam, kewajiban menuntut ilmu).

  10. Disiplin Ilmu dalam Islam (studi kasus).


Komponen Penilaian
Makalah, presentasi dan partisipasi 30%
Ujian Tengah Semester 20%
Ujian Akhir Semester 50%


Referensi

Buku Wajib
Ali, Mohamad Daud, Pendidikan Agama Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998

Departemen Agama Republik Indonesia, al-Quran dan Terjemahnya, Jakarta : 1984

Nurdin, Muslim, KH., et. Al, Moral dan Kognisi Islam (Buku Teks Agama Islam untuk Perguruan Tinggi Umum), Bandung: PT Alfabeta, 1995

Suryana, Af, A. Toto, et. al., Pendidikan Agama Islam, Bandung: Tiga Mutiara, 1996


Buku yang dianjurkan
Ali, H.A. Mukti, Memahami Beberapa Aspek Ajaran Islam, Bandung: Mizan, 1990

Nasution, Harun, Islam Rasional : Gagasan dan Pemikiran, Bandung : Mizan, 1995

Al-Qardawi, Yusuf, Berinteraksi dengan al-Qur’an, Jakarta: Gema Insani Press, 1999

______, al-Sunnah sebagai Sumber Iptek dan Peradaban: Diskursus Konstektual dan Aktualisasi Sunnah Nabi SAW dalam Iptek dan Peradaban, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1999

Shihab, M. Quraish, Membumikan al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1992

_______, Wawasan al-Qur’an, Bandung:Mizan, 1996

Tamara, M. Natsir & Elza P., Agama dan Dilaog antar Peradaban, Jakarta: Paramadina, 1996